Surat Tanpa Kertas
Kamis, 11 Desember 2014
Selasa, 09 Desember 2014
Kepada Lelaki Ilalang (Atas Nama Embun )
kembali
musim mempertemukan kita dalam gigil rindu
sebab
pelukmu dan pelukku tak lagi padu
aku
memilih berbalik punggung
bukan
karena hati telah jemu mencintai
tetapi
restu yang masih belum kita kantongi
betapa
jauh, enggan mendekat
Lelakiku,
setegar apa karang di lautan itu?
ia
tak ‘kan mampu menahan dahsyatnya badai
lalu
akan terkikis dan rapuh
demikian
kiranya kisah kita
yang
akan usang pula ditelan masa
satu
hal yang tak ingin terjadi dari perpisahan ini
tak
kuinginkan senyum itu hilang dari manis bibirmu
demi
perempuanmu, teruslah merajut asa
memilin
benang-benang kasih
hingga
menjelmalah bahagia
akupun
melakukan hal serupa berjuang
mempertahankan
rasa agar senantiasa bahagia
cinta
tak pernah salah mempertemukan
ia
datang dengan membawa hikmah
kekuatan
untuk memberi dan menerima
maka
sebaik-baiknya cara untuk mempertahankan
ialah
dengan doa nan penuh ketulusan
Hong
Kong, November 2014
Surat Tanpa Kertas
Dear,
Musim
gugur di kota ini, selalu membuatku ingin agar kau segera menjemput
Seperti
kali ini, masih harapan yang sama aku menunggu kehadiranmu
Namun
itu semua hanya menjadi angan indahku saja
Pernah
suatu kali tingkah polahku bagaikan orang gila
Saat
menyaksikan Mid Autum Festival di malam purnama penuh
Serasa
kau yang menggandeng tanganku, mengitari lentera raksasa
Namun
sadarku datang lebih awal, aku menggandeng sebuah pena
Seketika
aku ingin menuliskan segala yang aku lihat, tentang lentera itu
Juga
seribu lampion yang berjejer di Victoria Park, Coswaybay
Bahwa
tiada lebih benderang selain denyar rindu di hatiku
Ah
dear, ternyata aku tak pandai merangkai kata-kata cinta
Meski
suara-suara itu membisingkan telinga
Tapi
di ujung jemariku semua diam membisu
Aku
tergugu kaku, sementara rindu kian gencar memburu
Jika
suratku ini sudah kau baca
Mohon
jangan tertawakan tulisanku
Aku
akan menjadi malu, kemudian semakin rindu
Hongkong.
Februari 2014
Jumat, 07 November 2014
Pada Senja, Dia Bercerita
di suatu senja
dengan semburat warna jingganya
dia bercerita
mengadukan kesedihan hatinya yang tak terperi
irama sang bayu turut menyendu
seolah semua duka adalah miliknya
pun semilir angin yang berhembus
turut serta berbisik
berbicara serupa
hembuskan kecewa
sisakan luka
dia tak bahagia
satu masa telah berakhir dengan kesia-siaan
dia terluka
hatinya tak lagi merah
air matanya tak lagi basah
hanya degup jantungnya yang kian tak beraturan
namun dia selalu tersenyum
di antara tangis yang mengering
dia masih setia melantunkan doa-doa
agar masa depan tak lagi berduka
agar esok meraih bahagia
dia mengerti
bahwa kehidupan adalah perjalanan
dalam nanar realita yang benar-benar nyata
meski tangis 'kan selalu ada mengiringnya.
dengan semburat warna jingganya
dia bercerita
mengadukan kesedihan hatinya yang tak terperi
irama sang bayu turut menyendu
seolah semua duka adalah miliknya
pun semilir angin yang berhembus
turut serta berbisik
berbicara serupa
hembuskan kecewa
sisakan luka
dia tak bahagia
satu masa telah berakhir dengan kesia-siaan
dia terluka
hatinya tak lagi merah
air matanya tak lagi basah
hanya degup jantungnya yang kian tak beraturan
namun dia selalu tersenyum
di antara tangis yang mengering
dia masih setia melantunkan doa-doa
agar masa depan tak lagi berduka
agar esok meraih bahagia
dia mengerti
bahwa kehidupan adalah perjalanan
dalam nanar realita yang benar-benar nyata
meski tangis 'kan selalu ada mengiringnya.
Rabu, 08 Oktober 2014
Jalinan Kasih Sahabat Maya
Dalam lembar-lembar maya beranda
Jemari kita saling menautkan rasa
Berbinar-binar penuh pesona
Elok serupa bunga-bunga surga
Kau, aku dan dia
Bertemu di tempat yang sama
Bercerita tentang indahnya dunia
Dalam suka duka kita dewasa
Raga tak saling rengkuh
Mata tak saling pandang
Namun dekat ini kita rasakan
Rindupun sering bertandang
Bila sapa mulai lengang
Sahabatku dalam khayalan
Engkau memberiku banyak pelajaran
Walau tak jarang ada selisih paham
Sejauh ini masih mampu kita selesaikan
Dalam misi yang sama
Kita bangun indahnya cinta
Kita kukuhkan tali ukhuwah
Di bawah naungan Sang Fataakh
Jemari kita saling menautkan rasa
Berbinar-binar penuh pesona
Elok serupa bunga-bunga surga
Kau, aku dan dia
Bertemu di tempat yang sama
Bercerita tentang indahnya dunia
Dalam suka duka kita dewasa
Raga tak saling rengkuh
Mata tak saling pandang
Namun dekat ini kita rasakan
Rindupun sering bertandang
Bila sapa mulai lengang
Sahabatku dalam khayalan
Engkau memberiku banyak pelajaran
Walau tak jarang ada selisih paham
Sejauh ini masih mampu kita selesaikan
Dalam misi yang sama
Kita bangun indahnya cinta
Kita kukuhkan tali ukhuwah
Di bawah naungan Sang Fataakh
Senin, 06 Oktober 2014
Sajak tentang Hampa
hampa itu seperti orang menatap langit
melukis kekosongan di antara awan gemawan
menciptakan sajak dari desau angin
lalu ketika orang-orang berbisik
meneracau di sela desau
suaranya parau
terpekik menahan pedih
ada yang menderu dalam dirinya
benci yang lebih dari sebuah kenyataan
sementara sebagian mata
memilih bersembunyi lewat retorika surga
padahal jauh di lubuk terdalam
hatinya masam
semasam sungai yang tertimbun
kotoran sampah kehidupan
melukis kekosongan di antara awan gemawan
menciptakan sajak dari desau angin
lalu ketika orang-orang berbisik
meneracau di sela desau
suaranya parau
terpekik menahan pedih
ada yang menderu dalam dirinya
benci yang lebih dari sebuah kenyataan
sementara sebagian mata
memilih bersembunyi lewat retorika surga
padahal jauh di lubuk terdalam
hatinya masam
semasam sungai yang tertimbun
kotoran sampah kehidupan
Sajak Kaum Jelata
secangkir kopi hangat melesap
menjadi awan
menjelma hujan
sementara tuan masih menguap
di luar langit siang curam
guntur dan gelegar berbenturan
ada yang ketakutan
sembunyi di lorong jembatan
tuan masih betah dibalut selimut
di jalan malaikat-malaikat kecil berlarian
kaki-kaki telanjang mereka menerjang deras
lesatan petir tidak membuatnya minggir
tuan, ayuk bangun
bangunkan kami rumah singgah
agar merasakan hidup mewah
sejenak sebelum jasad merebah
sajak ini tentang nasib
yang disamarkan rintik
larut dalam selokan jalan
kapan tuan bisa mendengar?
Hong Kong, 06 Oktober 2014
menjadi awan
menjelma hujan
sementara tuan masih menguap
di luar langit siang curam
guntur dan gelegar berbenturan
ada yang ketakutan
sembunyi di lorong jembatan
tuan masih betah dibalut selimut
di jalan malaikat-malaikat kecil berlarian
kaki-kaki telanjang mereka menerjang deras
lesatan petir tidak membuatnya minggir
tuan, ayuk bangun
bangunkan kami rumah singgah
agar merasakan hidup mewah
sejenak sebelum jasad merebah
sajak ini tentang nasib
yang disamarkan rintik
larut dalam selokan jalan
kapan tuan bisa mendengar?
Hong Kong, 06 Oktober 2014
Rabu, 01 Oktober 2014
My Tweet
aksaraku adalah kepulangan rindu
ketukan demi ketukannya bagai nada
menggema penuhi ruang di dalam jiwa
cinta adalah air mata
aku belajar darinya
jatuh dan bangun
lalu berdiri, kemudian terbang
sepasang sayapku meraih mimpi (lagi)
di pintu dhuha
syukur kubentang seluas dada
; bahagia ini sedekat kening dan sajadah
"maka nikmatMu mana lagi yang kudusta? "
pada mata aksaramu
aku jatuh cinta
janganlah jengah
ajariku tabah
ada yang tersenyum di bawah hujan
ialah ia, seseorang yang merayakan pertemuan
bingkailah kenanganmu, Tuan
di album ingatan
kelak jika engkau rindu
bukalah, tapi usah kau risaukan
aku mencintaimu seperti embun
yang tak pernah membenci matahari
menyejukan resahmu dari mimpi sang kelam
rela jatuh saat hangat telah kau dapatkan
kepada perempuan pemilik telapak surga;
aku mencintaimu
mencintaimu
mencintaimu
memujamu sepanjang masa
kepada lelaki setia
penjembatanku menuju surga
; aku mencintaimu jua
ketukan demi ketukannya bagai nada
menggema penuhi ruang di dalam jiwa
cinta adalah air mata
aku belajar darinya
jatuh dan bangun
lalu berdiri, kemudian terbang
sepasang sayapku meraih mimpi (lagi)
di pintu dhuha
syukur kubentang seluas dada
; bahagia ini sedekat kening dan sajadah
"maka nikmatMu mana lagi yang kudusta? "
pada mata aksaramu
aku jatuh cinta
janganlah jengah
ajariku tabah
ada yang tersenyum di bawah hujan
ialah ia, seseorang yang merayakan pertemuan
bingkailah kenanganmu, Tuan
di album ingatan
kelak jika engkau rindu
bukalah, tapi usah kau risaukan
aku mencintaimu seperti embun
yang tak pernah membenci matahari
menyejukan resahmu dari mimpi sang kelam
rela jatuh saat hangat telah kau dapatkan
kepada perempuan pemilik telapak surga;
aku mencintaimu
mencintaimu
mencintaimu
memujamu sepanjang masa
kepada lelaki setia
penjembatanku menuju surga
; aku mencintaimu jua
Bait-bait Rindu
entah awal mulanya
tetiba anganku tertuju awan
pikiran mulai menerka-nerka rasa
rindukah dia
di tengah keramaian kota ini
aku sendiri menanggung sepi
kala sapa tak kutemui
dalam hirukpikuknya hari
di sudut taman Victoria
seringkali menulis rangkaian kata
di atas daun maple yang luruh
berharap angin menerbangkan sajakku
ke pangkuanmu di negeri sana
inilah rindu
dalam bait-bait balada
sebelum musim dingin tiba
tetiba anganku tertuju awan
pikiran mulai menerka-nerka rasa
rindukah dia
di tengah keramaian kota ini
aku sendiri menanggung sepi
kala sapa tak kutemui
dalam hirukpikuknya hari
di sudut taman Victoria
seringkali menulis rangkaian kata
di atas daun maple yang luruh
berharap angin menerbangkan sajakku
ke pangkuanmu di negeri sana
inilah rindu
dalam bait-bait balada
sebelum musim dingin tiba
Kamis, 25 September 2014
Ketika Hati Mencintai
inilah hati
yang mungkin tak sengaja melukai
menari berwarna warni
sekejap bermuram bumi
pernahkah kau lihat, dia tertawa riang
melebar senyum cemerlang
pernahkah kau saksi, hati yang terbang tinggi
karena bahagia yang ia dapati
atau pernahkah kau dengar
isak tangis yang mengurai kelamnya malam
karenamu yang mungkin tak sengaja melewatkan indah penantiannya
dialah hati yang kaujadikan tersenyum
lalu tak sengaja kata melukai
dia menangis
dia memerih pedih arti yang tak kau tanggapi
cobalah kau sadari
dialah hati yang selalu ada
bersama tulus yang ia beri
dialah hati yang mencinta
tanpa ingin menyakiti
dialah hati yang mencintai...
yang mungkin tak sengaja melukai
menari berwarna warni
sekejap bermuram bumi
pernahkah kau lihat, dia tertawa riang
melebar senyum cemerlang
pernahkah kau saksi, hati yang terbang tinggi
karena bahagia yang ia dapati
atau pernahkah kau dengar
isak tangis yang mengurai kelamnya malam
karenamu yang mungkin tak sengaja melewatkan indah penantiannya
dialah hati yang kaujadikan tersenyum
lalu tak sengaja kata melukai
dia menangis
dia memerih pedih arti yang tak kau tanggapi
cobalah kau sadari
dialah hati yang selalu ada
bersama tulus yang ia beri
dialah hati yang mencinta
tanpa ingin menyakiti
dialah hati yang mencintai...
Senja Yang Kuyup
Melintas senja berjaket kuyup
Rinai hujan yang menari, bulirnya hingga ke pori
Gema adzan yang mengalun sayup
Mengajak hati 'tuk segera berhenti
Singgah ke terminal ruhani
Deras ini...
Sederas rahmatMu, Rabbi
Sederas linangku dalam ketundukan jiwa ini
Tenggelamkan aku, Ya Kariim, di telaga kasih
Agar bibir senantiasa basah akan dzikir
Hingga senja yang dingin tak lagi gigil
Sebab hati terhangati oleh sebait syair
: atas namaMu
Rinai hujan yang menari, bulirnya hingga ke pori
Gema adzan yang mengalun sayup
Mengajak hati 'tuk segera berhenti
Singgah ke terminal ruhani
Deras ini...
Sederas rahmatMu, Rabbi
Sederas linangku dalam ketundukan jiwa ini
Tenggelamkan aku, Ya Kariim, di telaga kasih
Agar bibir senantiasa basah akan dzikir
Hingga senja yang dingin tak lagi gigil
Sebab hati terhangati oleh sebait syair
: atas namaMu
Rabu, 24 September 2014
Kicauan tanpa judul dengan @sigit_pam
masihkah rindang puisimu
saat ranting-ranting tak lagi lembab
daun-daun layu deritkan isyarat
senyap menyergap
aku masih setia dengan sunyi
sesuatu yang kunamai; puisi
tempat istirah saat lelah
menyungai di tatih langkah
di pucat wajah merah itu melebam
merajam seribu padu
mendesir paksa setiap titik jumpa
; kau menolak lupa
tak ada yang bisa kuterjemahkan
dari pekat yang menyelinap di beranda
selain kesunyian
dan langit yang tak mengabarkan apaapa
ada yang dikabarkan langit
pada hening, pada kesunyian
dan langit yang tak mengabarkan apaapa
ada yang dikabarkan langit
pada hening, pada kesunyian
rindu-rindu berdesakkan
mengetuk kenangan
Selasa, 23 September 2014
Cinta Di Jalan Setapak Panjang
ada jalan setapak panjang
di pentas kehidupan
sudah dilalui bersama
mungkin ada tawa di sana
pun mungkin ada suram menerpa
pada setiap langkah yang diayun
kehangatan berdua saling menyempurnakan
bahagialah dengan curahan
Rahmat Yang Maha Kuasa
Dia beri anugerahNya
menjaga cinta dalam jiwa
NB: sajak ini kutulis dalam rangka merayakan pernikahan emasnya Abah Dimas Arika Mihardja (DAM) dan Bunda Rita Indrawati (Yessica) ☺
di pentas kehidupan
sudah dilalui bersama
mungkin ada tawa di sana
pun mungkin ada suram menerpa
pada setiap langkah yang diayun
kehangatan berdua saling menyempurnakan
bahagialah dengan curahan
Rahmat Yang Maha Kuasa
Dia beri anugerahNya
menjaga cinta dalam jiwa
NB: sajak ini kutulis dalam rangka merayakan pernikahan emasnya Abah Dimas Arika Mihardja (DAM) dan Bunda Rita Indrawati (Yessica) ☺
Semesta Senja : Ironi Harmoni
Sepasang kakinya yang telanjang menjejak pasir. Dicelupkan jemarinya ke dalam lidah ombak yang menjuntai di bibir pantai. Matahari membulat oranye. Sang raja hari tampak agung, dihiasi selendang jingga ungu yang menghampar.
Direntangkannya kedua lengan, menyambut angin yang merengkuh tubuhnya tiba-tiba. Rambutnya meliuk seiring aroma amis lautan yang mengambang di udara.
Setangkai bunga mawar yang telah kering digenggamnya, sekering hati. Sebelah batin pedih, menatap jingga yang tak lagi setia. Hasratnya melayu di penghujung senja.
Kembali melangkah, bunyi berkecipah air yang membuih, menuju sepasang camar yang sedang bercengkrama di atas karang. Seekor mendelik menatap, lalu memekik, mengejutkan pejantan. Keduanya membumbung. Menjauh.
Ia hanya tersenyum iri.
Langit lalu berubah rupa, mengganti riasnya, meluruhkan selendang jingga keunguan.
Ditinggalkannya biru. Menjelma selimut maha luas berwarna oranye. Membulat sempurna pada pusat tata surya.
Sejenak hening menyergap. Nyiurpun enggan gemulai. Ritual sakral maha suci.
Gemerisik angin kembali mengganti. Selimut senja kian membentang. Melelapkan surya dalam bantalan langit yang temaram. Sebentar pendar perak sang bulan 'kan melambai pada lambaian nyiur.
Wanita itu mengatupkan kedua mata. Sorak riang ombak memekak telinganya.
: rinduku telah tuntas
Tinggal rasa cemburu.
Pada pantai.
Pada ombak.
Pada cerianya para camar.
Pada semarak angin yang menampar pipinya.
Pada alam.
Pada ritme.
Pada semesta.
Ia cemburu
: telah lama ia kehilangan harmoni
Baginya semesta telah runtuh.
Baginya, ia bukan lagi bagiannya.
Baginya, ia hanya selongsongan hampa tanpa jiwa.
Tiba-tiba kerang menyapa kakinya. Kerang yang telah lama mati. Kulitnya yang cantik, namun kosong terabai di bibir pantai. Sementara harmoni lainnya masih bernyanyi beriringan di dalam semesta. Kulit kerang itu berkilauan seorang diri.
Dirinya kah kerang itu?
Lalu dilemparnya jauh. Hingga tawa lautan menyiringainya. Lalu ombak. Ia kembali berkabung. Dengan kesedihan yang purba.
Direntangkannya kedua lengan, menyambut angin yang merengkuh tubuhnya tiba-tiba. Rambutnya meliuk seiring aroma amis lautan yang mengambang di udara.
Setangkai bunga mawar yang telah kering digenggamnya, sekering hati. Sebelah batin pedih, menatap jingga yang tak lagi setia. Hasratnya melayu di penghujung senja.
Kembali melangkah, bunyi berkecipah air yang membuih, menuju sepasang camar yang sedang bercengkrama di atas karang. Seekor mendelik menatap, lalu memekik, mengejutkan pejantan. Keduanya membumbung. Menjauh.
Ia hanya tersenyum iri.
Langit lalu berubah rupa, mengganti riasnya, meluruhkan selendang jingga keunguan.
Ditinggalkannya biru. Menjelma selimut maha luas berwarna oranye. Membulat sempurna pada pusat tata surya.
Sejenak hening menyergap. Nyiurpun enggan gemulai. Ritual sakral maha suci.
Gemerisik angin kembali mengganti. Selimut senja kian membentang. Melelapkan surya dalam bantalan langit yang temaram. Sebentar pendar perak sang bulan 'kan melambai pada lambaian nyiur.
Wanita itu mengatupkan kedua mata. Sorak riang ombak memekak telinganya.
: rinduku telah tuntas
Tinggal rasa cemburu.
Pada pantai.
Pada ombak.
Pada cerianya para camar.
Pada semarak angin yang menampar pipinya.
Pada alam.
Pada ritme.
Pada semesta.
Ia cemburu
: telah lama ia kehilangan harmoni
Baginya semesta telah runtuh.
Baginya, ia bukan lagi bagiannya.
Baginya, ia hanya selongsongan hampa tanpa jiwa.
Tiba-tiba kerang menyapa kakinya. Kerang yang telah lama mati. Kulitnya yang cantik, namun kosong terabai di bibir pantai. Sementara harmoni lainnya masih bernyanyi beriringan di dalam semesta. Kulit kerang itu berkilauan seorang diri.
Dirinya kah kerang itu?
Lalu dilemparnya jauh. Hingga tawa lautan menyiringainya. Lalu ombak. Ia kembali berkabung. Dengan kesedihan yang purba.
Bening Yang Kurindu
pada kemilaunya yang anggun
tatapku tertegun
betapa keindahannya selalu mempesona
menumbuhkan benih benih cinta
adalah aku yang tak bisa sekejap saja
membiarkannya hilang tanpa kata
beribu sajak kutulis atasmu
; bening yang hening itu
adakah engkau tahu
sejak kemarin ruang itu sunyi
sepi tanpa suara
kata kata turut serta
sementara getar di dada
kian menggoda
akupun menunggumu
sampai terik mengganti pagi
petang dengan segudang gundah
lalu malam datang begitu angkuh
menutup indah wajah purnama
: aku masih menunggu
hingga kembali kepada pagi
sejukmu masih menjadi satu rindu
yang selalu ingin kukecup setiap waktu
tanpa jemu.
tatapku tertegun
betapa keindahannya selalu mempesona
menumbuhkan benih benih cinta
adalah aku yang tak bisa sekejap saja
membiarkannya hilang tanpa kata
beribu sajak kutulis atasmu
; bening yang hening itu
adakah engkau tahu
sejak kemarin ruang itu sunyi
sepi tanpa suara
kata kata turut serta
sementara getar di dada
kian menggoda
akupun menunggumu
sampai terik mengganti pagi
petang dengan segudang gundah
lalu malam datang begitu angkuh
menutup indah wajah purnama
: aku masih menunggu
hingga kembali kepada pagi
sejukmu masih menjadi satu rindu
yang selalu ingin kukecup setiap waktu
tanpa jemu.
Sepucuk Surat Untuk Cinta
aku menulis surat ini untukmu
seperti tak pernah bisa bersabar
dalam mengharapkanmu
tapi inilah rasa, bertahun kata tak jua reda
kembali mendera kita
lalu hilanglah jarak
ketika kelak warna kembali pada senja
sebelum kita terpaku untuk rindu
yang memilih tak berhenti menyanyi
dalam seribu puisi puisi dan doa doa
betapa dahaga jarak ini, kekasih
ketika kita masih saja begitu jauh
saling bertukar mimpi dan keluh kesah
memangkas kecemasan seperti reranting usia yang
gemetar menahan getar cuaca
namun kau terus membujukku
untuk bersabar dalam setiap pengharapan
untuk tabah dalam setiap ujian
demi kelanjutan cerita kita
"tersenyumlah, jangan terus bersedih, kekasih
kerinduan tak pernah sejalan dengan kabut ketakutan
ia bersahabat dengan kekuatan harapan."
kekuatan untuk tetap mempertahankan rasa
dalam setiap kesedihan dan kesulitan
hingga di suatu masa di akhir penantian
bahagia menjadi hadiah paling megah.
Minggu, 24 Agustus 2014
Kilau Tanpa Warna
Senja telah datang lagi
merepih sunyi dalam semesta jiwa
tanpa nada indah
tanpa simponi seperti hari kemarin
saat lautan rindu masih menyenandungkan jingga merah
Diam ku di sini seperti batu
menatap nanar mentari lara
yang memancarkan temaram duka
tepat menghujam samudera rasa
Tak ada nada
tak ada lirik
Tak ada kicau tawa di antara buih tangis
tak ada serunai merdu di padang luka
pun nyanyian rindu dari kecipak telaga
jua di bibir kembara yang mengulum nestapa
Sambutlah senjaku
Ketika perih itu bertahtah di singgasana jiwa
saat sumpah terikrar di selasar waktu
pada janji yang telah usang
untuk setia yang terabaikan
Dan sampaikanlah senjaku
Tentang salam seribu nada
pada kilau warna yang telah buram
saat masa menghempas sunyi
dan jingga tak lagi gemulai menari
Kiriman : Indra Signora
merepih sunyi dalam semesta jiwa
tanpa nada indah
tanpa simponi seperti hari kemarin
saat lautan rindu masih menyenandungkan jingga merah
Diam ku di sini seperti batu
menatap nanar mentari lara
yang memancarkan temaram duka
tepat menghujam samudera rasa
Tak ada nada
tak ada lirik
Tak ada kicau tawa di antara buih tangis
tak ada serunai merdu di padang luka
pun nyanyian rindu dari kecipak telaga
jua di bibir kembara yang mengulum nestapa
Sambutlah senjaku
Ketika perih itu bertahtah di singgasana jiwa
saat sumpah terikrar di selasar waktu
pada janji yang telah usang
untuk setia yang terabaikan
Dan sampaikanlah senjaku
Tentang salam seribu nada
pada kilau warna yang telah buram
saat masa menghempas sunyi
dan jingga tak lagi gemulai menari
Kiriman : Indra Signora
Kurelakan Dalam Cinta
Aku pasrahkan kelemahanku menyerah dalam sayap heningMu
karna tak ada daya bagiku
untuk merobah takdir yang telah Kau tulis
dengan tanganMu yang Maha perkasa
Bila derita kehidupan adalah caraMu
saat menunjukkan cinta serta kemesraan
kurelakan hatiku tercabik-cabik dalam pengembaraan ini
Mungkin aku tak memiliki cinta
seperti semburat kilau fajarMu
tapi aku mempunyai kerinduan yang dalam
untuk bisa mendapatkan setitik cahaya
dari belai kasihMu
Apalah arti rinduku bagiMu
ia hanyalah setitis air comberan
yang kesulitan mencari jalan
agar bisa mencapai keagungan samuderaMu
Izinkanlah ia menyatu dengan sungai-sungai heningMu
hingga ia terhanyut sampai ke muara
dan melebur dalam lautan cinta kasihMu
Kiriman : Indra Signora
karna tak ada daya bagiku
untuk merobah takdir yang telah Kau tulis
dengan tanganMu yang Maha perkasa
Bila derita kehidupan adalah caraMu
saat menunjukkan cinta serta kemesraan
kurelakan hatiku tercabik-cabik dalam pengembaraan ini
Mungkin aku tak memiliki cinta
seperti semburat kilau fajarMu
tapi aku mempunyai kerinduan yang dalam
untuk bisa mendapatkan setitik cahaya
dari belai kasihMu
Apalah arti rinduku bagiMu
ia hanyalah setitis air comberan
yang kesulitan mencari jalan
agar bisa mencapai keagungan samuderaMu
Izinkanlah ia menyatu dengan sungai-sungai heningMu
hingga ia terhanyut sampai ke muara
dan melebur dalam lautan cinta kasihMu
Kiriman : Indra Signora
Sungguh Kasihan Jiwa
Sungguh kasihan jiwa
yang tak bisa menyanyikan lagu kepedihan
layaknya nyanyian kebebasan
Hingga ia tak bisa melepaskan ikatan
hatinya
dari belenggu duka cita
yang telah memenjarakan tawa cerianya
Sungguh kasihan jiwa
yang menganggap derita adalah racun kehidupan
layaknya pisau musim gugur
yang merobek-robek impian taman
Hingga malam-malamnya terisi oleh ratapan penuh hibah
dan paginya tiada bersinar
seperti lentera redup
yang kehabisan bahan bakar
Duka cita serta derita adalah lirik cinta
yang bersumber dari nyanyian semesta
ia adalah kasih sayang Tuhan
yang tercurah ke dalam hati manusia
Ia juga seumpama senandung fajar yang berkicau begitu merdu
di balik keheningan lembah-lembah sunyi
Yang memainkan melodi kehidupan dari petikan kecapi semesta
kala mengalunkan nyanyian pagi dalam doa serta harapannya
Sungguh kasihan jiwa
yang tak bisa mencurahkan kepedihannya
ke dalam relung hari
serta sukma waktu
Hingga ia laksana daun-daun rontok yang terhempas angin
saat kehilangan pegangan untuk bertahan
Padahal dalam dirinya
tersimpan segala macam kekayaan Tuhan
yang berwujud akal budi
serta segala nasehat hidup
dari sang hidup
Yang memancarkan sinar kebijaksanaan
yang menyiratkan pengetahuan
yang menerangi semua jalan
serta memberikan kekuatan dalam hatinya
Dan
Sungguh sangat kasihan jiwa
yang menyanyikan kidung kematian
sedang napas hidupnya masih bergerak
pun jantung masih berdetak
Seakan ia melupakan keberadaan Tuhan dalam hatinya
hingga ia begitu memuja duka citanya
dan menyanyikan mantra-mantra kesedihan
dalam kidung putus asa
serta lirik bersimbah darah
Ingatlah wahai
kalian saudaraku tercinta
Penderitaan yang paling menyakitkan
adalah bila kalian kehilangan akal kesadaran
seperti kapal yang kehilangan kemudi
dan laksana rumah kosong
yang ditinggal pergi penghuninya
hingga yang ada hanya ketakutan serta kehampaan
Isilah hidup dengan tujuan
arungi musim dengan penuh kebijaksanaan
karna sesungguhnya derita dan bahagia tiada beda
semua hanyalah ciptaan fikiran
Bila fikiran kalian dipenuhi rasa syukur
maka hati akan terasa lapang
ia akan menjadi samudera yang tenang
yang akan membawa kalian ke dalam limpahan rahmat Tuhan
Kekayaan yang abadi ada pada hati yang ikhlas dan sabar
bukan pada gemerlapnya tumpukan berlian
Hati yang senantiasa dipenuhi rasa syukur dan sabar
akan mampu menyanyikan kidung kehidupan
dengan suara yang sangat merdu
karna ia memiliki lirik-lirik terindah dari perjalanan musim
yang telah menyatu dengan suka duka hatinya
Kiriman : Indra Signora
yang tak bisa menyanyikan lagu kepedihan
layaknya nyanyian kebebasan
Hingga ia tak bisa melepaskan ikatan
hatinya
dari belenggu duka cita
yang telah memenjarakan tawa cerianya
Sungguh kasihan jiwa
yang menganggap derita adalah racun kehidupan
layaknya pisau musim gugur
yang merobek-robek impian taman
Hingga malam-malamnya terisi oleh ratapan penuh hibah
dan paginya tiada bersinar
seperti lentera redup
yang kehabisan bahan bakar
Duka cita serta derita adalah lirik cinta
yang bersumber dari nyanyian semesta
ia adalah kasih sayang Tuhan
yang tercurah ke dalam hati manusia
Ia juga seumpama senandung fajar yang berkicau begitu merdu
di balik keheningan lembah-lembah sunyi
Yang memainkan melodi kehidupan dari petikan kecapi semesta
kala mengalunkan nyanyian pagi dalam doa serta harapannya
Sungguh kasihan jiwa
yang tak bisa mencurahkan kepedihannya
ke dalam relung hari
serta sukma waktu
Hingga ia laksana daun-daun rontok yang terhempas angin
saat kehilangan pegangan untuk bertahan
Padahal dalam dirinya
tersimpan segala macam kekayaan Tuhan
yang berwujud akal budi
serta segala nasehat hidup
dari sang hidup
Yang memancarkan sinar kebijaksanaan
yang menyiratkan pengetahuan
yang menerangi semua jalan
serta memberikan kekuatan dalam hatinya
Dan
Sungguh sangat kasihan jiwa
yang menyanyikan kidung kematian
sedang napas hidupnya masih bergerak
pun jantung masih berdetak
Seakan ia melupakan keberadaan Tuhan dalam hatinya
hingga ia begitu memuja duka citanya
dan menyanyikan mantra-mantra kesedihan
dalam kidung putus asa
serta lirik bersimbah darah
Ingatlah wahai
kalian saudaraku tercinta
Penderitaan yang paling menyakitkan
adalah bila kalian kehilangan akal kesadaran
seperti kapal yang kehilangan kemudi
dan laksana rumah kosong
yang ditinggal pergi penghuninya
hingga yang ada hanya ketakutan serta kehampaan
Isilah hidup dengan tujuan
arungi musim dengan penuh kebijaksanaan
karna sesungguhnya derita dan bahagia tiada beda
semua hanyalah ciptaan fikiran
Bila fikiran kalian dipenuhi rasa syukur
maka hati akan terasa lapang
ia akan menjadi samudera yang tenang
yang akan membawa kalian ke dalam limpahan rahmat Tuhan
Kekayaan yang abadi ada pada hati yang ikhlas dan sabar
bukan pada gemerlapnya tumpukan berlian
Hati yang senantiasa dipenuhi rasa syukur dan sabar
akan mampu menyanyikan kidung kehidupan
dengan suara yang sangat merdu
karna ia memiliki lirik-lirik terindah dari perjalanan musim
yang telah menyatu dengan suka duka hatinya
Kiriman : Indra Signora
Rindu Di Batas Cahaya
Senja telah bergulung
matahari telah beranjak pulang
burung-burung pun sudah kembali menuju sarang
hanya tersisa sunyi yang mendekam
Berhembus bersama semilir angin
menampar bisu dinding-dinding karang
mencumbui hening tebing-tebing terjal
dan berdesir pilu ke dasar lembah tak bertuan
Aku di sini
bersama rinduku
Berimajinasi dalam khayal dan kata
bercerita hening pada laut di samudera
merangkai aksara cinta tanpa nada
dalam selaksa galau
yang merintih di palung jiwa
Wahai laut tak berujung
Inilah aku sang penunggu musim
yang bermimpi dalam makam kematianku
mengukir rintih rindu tak terperihkan
menyimpan duka cinta lara
di ujung batas titian cahaya
Wahai tebing-tebing terjal
Inilah aku sang perindu waktu
yang berjalan di atas reruntuhan malam
yang bernyayi sendu di ladang-ladang hitam
menyusuri sunyi runcing cadas bebatuan
dalam segala resah tak tertahankan
Kiriman : Indra Signora
matahari telah beranjak pulang
burung-burung pun sudah kembali menuju sarang
hanya tersisa sunyi yang mendekam
Berhembus bersama semilir angin
menampar bisu dinding-dinding karang
mencumbui hening tebing-tebing terjal
dan berdesir pilu ke dasar lembah tak bertuan
Aku di sini
bersama rinduku
Berimajinasi dalam khayal dan kata
bercerita hening pada laut di samudera
merangkai aksara cinta tanpa nada
dalam selaksa galau
yang merintih di palung jiwa
Wahai laut tak berujung
Inilah aku sang penunggu musim
yang bermimpi dalam makam kematianku
mengukir rintih rindu tak terperihkan
menyimpan duka cinta lara
di ujung batas titian cahaya
Wahai tebing-tebing terjal
Inilah aku sang perindu waktu
yang berjalan di atas reruntuhan malam
yang bernyayi sendu di ladang-ladang hitam
menyusuri sunyi runcing cadas bebatuan
dalam segala resah tak tertahankan
Kiriman : Indra Signora
Ke mana kutitipkan rindu?
Tlah kutuliskan rindu
Dengan tinta Biru
Saat Langit memayung kotamu
Tiba-tiba gerimis datang
Gantikan warna muram
: rinduku kelabu
Tlah kulangitkan rindu bersama hujan
Agar basah dan terhangatkan
Namun gelegar menerjang
Jatuhkan ke dalam jurang
: rinduku meradang
Tlah kulukiskan rindu di batuan karang
Agar kokoh dan tegar
Namun ombak terlalu nakal
Runtuhkan ia ke dasar yang paling dalam
: rinduku tenggelam
Lalu harus ke mana kutitipkan rindu
Saat biru langit, deras hujan dan deru ombak
Tak lagi memberi restu
Menjadikannya piatu
Sendiri dalam gigil yang mensalju.
Dengan tinta Biru
Saat Langit memayung kotamu
Tiba-tiba gerimis datang
Gantikan warna muram
: rinduku kelabu
Tlah kulangitkan rindu bersama hujan
Agar basah dan terhangatkan
Namun gelegar menerjang
Jatuhkan ke dalam jurang
: rinduku meradang
Tlah kulukiskan rindu di batuan karang
Agar kokoh dan tegar
Namun ombak terlalu nakal
Runtuhkan ia ke dasar yang paling dalam
: rinduku tenggelam
Lalu harus ke mana kutitipkan rindu
Saat biru langit, deras hujan dan deru ombak
Tak lagi memberi restu
Menjadikannya piatu
Sendiri dalam gigil yang mensalju.
Selasa, 19 Agustus 2014
Nyanyian Kala Senja
battle puisi dengan si cantik @dinjuly
di telapak kaki senja
rindu kulukis dengan gemuruh di dada
tentang peluk sapa yang manis
dalam untaian puisi kita
di bawah pendar jingga
rindu kita merona
tersentuh angin senja yang
membawa kabar bahagia
kulihat di binar matamu, sayang
wajahnya melebam jingga
rupanya rindu itu yang
menguliti rasa bahagiamu
begitulah rindu, sayang
selalu mengencaniku dengan manja
menyapa pada setiap gerak-gerik senyumku
; kau rindu yang kupunya.
rindu kulukis dengan gemuruh di dada
tentang peluk sapa yang manis
dalam untaian puisi kita
di bawah pendar jingga
rindu kita merona
tersentuh angin senja yang
membawa kabar bahagia
kulihat di binar matamu, sayang
wajahnya melebam jingga
rupanya rindu itu yang
menguliti rasa bahagiamu
begitulah rindu, sayang
selalu mengencaniku dengan manja
menyapa pada setiap gerak-gerik senyumku
; kau rindu yang kupunya.
Menjaga Hati
aku selalu
menjaga hati ini untuknya
: yang mencintaiku
yakinku kau juga begitu
tentang jenuh yang sering membelenggu
sebenarnya takkan mampu kau hentikan
walau dengan parang kebencian
biarlah hanya waktu yang akan memberikan jawaban
jika kau lelah
menunggu waktu itu
meleburlah bersama hening
sebab ia akan memberi
perubahan yang matang
jangan salah sangka
aku; dia, dan mereka
juga merasakan hal serupa
percayalah !
hanya menikmati dan memaknainya
berbeda-beda
suburkanlah kesabaran di ladang batin
jaga dan pelihara
percayakan padaku tapak-tapak hati
dan aku percayakan padamu
jejak-jejak nurani.
menjaga hati ini untuknya
: yang mencintaiku
yakinku kau juga begitu
tentang jenuh yang sering membelenggu
sebenarnya takkan mampu kau hentikan
walau dengan parang kebencian
biarlah hanya waktu yang akan memberikan jawaban
jika kau lelah
menunggu waktu itu
meleburlah bersama hening
sebab ia akan memberi
perubahan yang matang
jangan salah sangka
aku; dia, dan mereka
juga merasakan hal serupa
percayalah !
hanya menikmati dan memaknainya
berbeda-beda
suburkanlah kesabaran di ladang batin
jaga dan pelihara
percayakan padaku tapak-tapak hati
dan aku percayakan padamu
jejak-jejak nurani.
Senin, 18 Agustus 2014
Mencintai Dalam Diam
Aneh bukan? Perasaan ini selalu mengganggu. Aku sering tersenyum sendiri saat dengan sembunyi mengintip beranda FBnya. Sekadar ingin memastikan kalau keadaanya baik-baik saja.
Walau jarang menyapa meski room chat sedang berwarna hijau.
Pernah beberapa ada obrolan, berbagi cerita, canda dan tawa. Dan setelahnya, aku sendiri yang menerka-nerka perasaan aneh dalam hatiku.
Mungkin saja angin terlalu lembut menyampaikan pesan, pada harap yang kusemai di setiap sujud malam. Namun aku tak berani mengungkapkan, hanya memendamnya dalam diam.
Sebab dia pun masih biasa-biasa saja, bahkan terkesan sangat dingin.
*
Perasaan aneh itu kupendam hampir setahun lamanya. Begitu mengakar, bahkan semakin kuat dan mengembang.
Dan selama itu pula aku mulai merawat rindu.
Hingga suatu senja, kala langit merona jingga, dia datang membawa kabar gembira. Namun entah kenapa langitku berubah muram, hujan mulai mengambang.
"Wie, aku sedang jatuh cinta, sungguh aku sangat mengaguminya." ucap Pram dengan penuh syahdu.
Bagai petir yang menyambar telingaku, ucapan itu mengagetkanku.
"Selamat Pram, akhirnya kau menemukan pujaan hatimu."
Dengan segera aku memalingkan wajah, sembunyikan kecewaku agar tak nampak olehnya.
Begitu susahnya bibir ini untuk melukis senyum.
"Thanks Wie, aku bahagia walau ini masih terbentang jarak!"
"Dekatkan dengan doa, Pram. semangat untuk memperjuangakan bahagia.
Sebagai sahabat aku selalu berusaha menyemangatinya, ketika dia mulai menyerah. Aku sembunyikan segala rasaku, cemburuku. Aku tak ingin dia tahu, aku tak ingin melihatnya kecewa.
Biarlah dia merawat mawar yang tumbuh di tamannya. Sebab kutahu dia sangat menginginkan keindahan dan kebahagiaan ada menghiasi harinya.
Kau tidak usah mengganggunya Wie, biarkan dia bahagia dengan cintanya. Buang atau pendam perasaanmu terhadapnya, jangan menjadi benalu. Ingat Wie, dia hanya menganggapmu sebagai sahabat. yah, hanya sebatas sahabat, tidak lebih. lirihku membatin.
**
Hampir beberapa pekan tak ada kabar dari Pram. Mungkin dia sudah lupa, atau sedang sibuk dengan kebahagiaannya.
Baru saja mengingatnya, tiba-tiba terdengar sapaan khasnya. Tentu saja membuatku bahagia.
"Wie apa kabar?
"Alhamdulillah baik.
"Aku bingung Wie, rasanya kebahagiaan itu selalu tak bisa kuraih, terlalu jauh.
"Emangnya ada apa, Pram?
"Dia wanita yang selalu membuatku penasaran, diamnya mengundang seribu tanya. Aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan."
"Sabar Pram, perlu keberanian buat ungkapin semuanya. awas loh tumbuh jerawat kalau disimpan terus.hehehehe
Pram hanya tersenyum, dan lagi lagi senyumnya mempesonakanku. Senyum itu...yah senyum itu selalu membuat dadaku bergetar.
"Wie, bisa tolongin gak? permintaan Pram mengagetkan lamunanku.
"Kalau aku. bisa kenapa gak!"
"Please, buatin aku puisi cinta!"
Degg!!!
Serasa ada pukulan keras yang menghantam dadaku, sesak. Bagaimana bisa dia menyuruhku demikian, membuatkan puisi untuk wanita yang dia cintai.
Lama aku tak menjawab permintaan Pram. Aku bungkam, tiba-tiba ada yang jatuh dari kedua bola mataku. Aku menangis. Kenapa bisa aku menangis?
"Wie, kenapa diam, hanya kamu sahabatku yang paling ngertiin aku."
Aku masih saja diam. Sampai Pram mengulangi permintaannya.
"Baiklah sahabatku, aku akan buatin puisi untukmu!"
setiap pagi membuka cahaya
ada kerinduan yang menjelajah jiwa
kerinduan yang amat tinggi
telah menyentuh langit-langit hati
sebuah kerinduan yang ingin
membasuh bukit-bukit jiwamu
kerinduan yang begitu indah
moga wajahku dapat tenggelam di kelopak matamu
ketahuilah kasih...
wajahmu kini mengelilingi dinding-dinding pikiranku.
***
Setelah kepergiannya, hari-hariku kian sepi. Tak ada lagi canda tawanya, sapanya di setiap pagi dan senja.
Waktu semakin tak memihakku, aku mulai jenuh.
Ingin pindah ke tempat asing, di mana tak dikenali siapapun.
Keputusanku untuk pergi sudah bulat. Yah, aku harus pergi dari kota ini, terlalu banyak kenangan indah yang membuatku rapuh.
Keputusan itupun aku ambil, setidaknya agar aku bisa menghirup cuaca baru, yang lebih fresh tentunya.!
Tanpa diduga, di tempat baruku aku bertemu dengan Pram. Mungkin ini yang disebut kebetulan.
Seperti sepasang kekasih yang sudah lama gak ketemu. Kulihat binar itupun menerpa wajah teduhnya.
"Wie, maafkan aku, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu.
"Aku mencintaimu...
Pram kemudian membacakan puisi yang kutulis untuknya itu.
Langit berwarna jingga ungu, dan dua cinta kini bertemu, mengucap ikrar setia di perpulangan senja.(*)
Sabtu, 16 Agustus 2014
#ProjectAntologiBaitPuisi
kubaca surat darimu
yang
diterbangkan angin
jatuh
tepat di pangkuanku
bersama
sehelai daun kering
pohon
juga menjatuhkan ranting
seolah
telah lelah dengan beban
sedang
musim kian meranggas
kemarau
tak lekas undur diri
sudah
lelah bersama angin
katamu di musim kemarin
katamu di musim kemarin
lalu
aku seperti biasa hanya dungu
memasung
telinga dengan bisikmu
kini
pada tempat yang sama
lalu
segala ingin menerpa
segera
menuntaskan segala
sebelum
hujan segera tibaHong Kong, Agustus 2014
BERANDA PAGI
ada rindu yang mengetuk - ketuk pintu shubuh
kala fajar membuka cahaya
segala resah rebah
di rumahMu yang mewah
SUGUHAN HANGAT
di secangkir kopi
senyummu adalah gula
menambah aroma rasa
penghangat jiwa
SENJA
mata memicing tersapu kabut
tampak samar gemawan di kaki senja
seolah itu cerminan diriku
semakin ringkih terkikis masa
KEHIDUPAN
tak ada sisa dari kepergian
selain titik sabar untuk menanti
kepulangan berikutnya
bukankah hidup hanya
soal kelahiran dan kematian
Langganan:
Postingan (Atom)




