Senja telah datang lagi
merepih sunyi dalam semesta jiwa
tanpa nada indah
tanpa simponi seperti hari kemarin
saat lautan rindu masih menyenandungkan jingga merah
Diam ku di sini seperti batu
menatap nanar mentari lara
yang memancarkan temaram duka
tepat menghujam samudera rasa
Tak ada nada
tak ada lirik
Tak ada kicau tawa di antara buih tangis
tak ada serunai merdu di padang luka
pun nyanyian rindu dari kecipak telaga
jua di bibir kembara yang mengulum nestapa
Sambutlah senjaku
Ketika perih itu bertahtah di singgasana jiwa
saat sumpah terikrar di selasar waktu
pada janji yang telah usang
untuk setia yang terabaikan
Dan sampaikanlah senjaku
Tentang salam seribu nada
pada kilau warna yang telah buram
saat masa menghempas sunyi
dan jingga tak lagi gemulai menari
Kiriman : Indra Signora
Surat Tanpa Kertas
Minggu, 24 Agustus 2014
Kurelakan Dalam Cinta
Aku pasrahkan kelemahanku menyerah dalam sayap heningMu
karna tak ada daya bagiku
untuk merobah takdir yang telah Kau tulis
dengan tanganMu yang Maha perkasa
Bila derita kehidupan adalah caraMu
saat menunjukkan cinta serta kemesraan
kurelakan hatiku tercabik-cabik dalam pengembaraan ini
Mungkin aku tak memiliki cinta
seperti semburat kilau fajarMu
tapi aku mempunyai kerinduan yang dalam
untuk bisa mendapatkan setitik cahaya
dari belai kasihMu
Apalah arti rinduku bagiMu
ia hanyalah setitis air comberan
yang kesulitan mencari jalan
agar bisa mencapai keagungan samuderaMu
Izinkanlah ia menyatu dengan sungai-sungai heningMu
hingga ia terhanyut sampai ke muara
dan melebur dalam lautan cinta kasihMu
Kiriman : Indra Signora
karna tak ada daya bagiku
untuk merobah takdir yang telah Kau tulis
dengan tanganMu yang Maha perkasa
Bila derita kehidupan adalah caraMu
saat menunjukkan cinta serta kemesraan
kurelakan hatiku tercabik-cabik dalam pengembaraan ini
Mungkin aku tak memiliki cinta
seperti semburat kilau fajarMu
tapi aku mempunyai kerinduan yang dalam
untuk bisa mendapatkan setitik cahaya
dari belai kasihMu
Apalah arti rinduku bagiMu
ia hanyalah setitis air comberan
yang kesulitan mencari jalan
agar bisa mencapai keagungan samuderaMu
Izinkanlah ia menyatu dengan sungai-sungai heningMu
hingga ia terhanyut sampai ke muara
dan melebur dalam lautan cinta kasihMu
Kiriman : Indra Signora
Sungguh Kasihan Jiwa
Sungguh kasihan jiwa
yang tak bisa menyanyikan lagu kepedihan
layaknya nyanyian kebebasan
Hingga ia tak bisa melepaskan ikatan
hatinya
dari belenggu duka cita
yang telah memenjarakan tawa cerianya
Sungguh kasihan jiwa
yang menganggap derita adalah racun kehidupan
layaknya pisau musim gugur
yang merobek-robek impian taman
Hingga malam-malamnya terisi oleh ratapan penuh hibah
dan paginya tiada bersinar
seperti lentera redup
yang kehabisan bahan bakar
Duka cita serta derita adalah lirik cinta
yang bersumber dari nyanyian semesta
ia adalah kasih sayang Tuhan
yang tercurah ke dalam hati manusia
Ia juga seumpama senandung fajar yang berkicau begitu merdu
di balik keheningan lembah-lembah sunyi
Yang memainkan melodi kehidupan dari petikan kecapi semesta
kala mengalunkan nyanyian pagi dalam doa serta harapannya
Sungguh kasihan jiwa
yang tak bisa mencurahkan kepedihannya
ke dalam relung hari
serta sukma waktu
Hingga ia laksana daun-daun rontok yang terhempas angin
saat kehilangan pegangan untuk bertahan
Padahal dalam dirinya
tersimpan segala macam kekayaan Tuhan
yang berwujud akal budi
serta segala nasehat hidup
dari sang hidup
Yang memancarkan sinar kebijaksanaan
yang menyiratkan pengetahuan
yang menerangi semua jalan
serta memberikan kekuatan dalam hatinya
Dan
Sungguh sangat kasihan jiwa
yang menyanyikan kidung kematian
sedang napas hidupnya masih bergerak
pun jantung masih berdetak
Seakan ia melupakan keberadaan Tuhan dalam hatinya
hingga ia begitu memuja duka citanya
dan menyanyikan mantra-mantra kesedihan
dalam kidung putus asa
serta lirik bersimbah darah
Ingatlah wahai
kalian saudaraku tercinta
Penderitaan yang paling menyakitkan
adalah bila kalian kehilangan akal kesadaran
seperti kapal yang kehilangan kemudi
dan laksana rumah kosong
yang ditinggal pergi penghuninya
hingga yang ada hanya ketakutan serta kehampaan
Isilah hidup dengan tujuan
arungi musim dengan penuh kebijaksanaan
karna sesungguhnya derita dan bahagia tiada beda
semua hanyalah ciptaan fikiran
Bila fikiran kalian dipenuhi rasa syukur
maka hati akan terasa lapang
ia akan menjadi samudera yang tenang
yang akan membawa kalian ke dalam limpahan rahmat Tuhan
Kekayaan yang abadi ada pada hati yang ikhlas dan sabar
bukan pada gemerlapnya tumpukan berlian
Hati yang senantiasa dipenuhi rasa syukur dan sabar
akan mampu menyanyikan kidung kehidupan
dengan suara yang sangat merdu
karna ia memiliki lirik-lirik terindah dari perjalanan musim
yang telah menyatu dengan suka duka hatinya
Kiriman : Indra Signora
yang tak bisa menyanyikan lagu kepedihan
layaknya nyanyian kebebasan
Hingga ia tak bisa melepaskan ikatan
hatinya
dari belenggu duka cita
yang telah memenjarakan tawa cerianya
Sungguh kasihan jiwa
yang menganggap derita adalah racun kehidupan
layaknya pisau musim gugur
yang merobek-robek impian taman
Hingga malam-malamnya terisi oleh ratapan penuh hibah
dan paginya tiada bersinar
seperti lentera redup
yang kehabisan bahan bakar
Duka cita serta derita adalah lirik cinta
yang bersumber dari nyanyian semesta
ia adalah kasih sayang Tuhan
yang tercurah ke dalam hati manusia
Ia juga seumpama senandung fajar yang berkicau begitu merdu
di balik keheningan lembah-lembah sunyi
Yang memainkan melodi kehidupan dari petikan kecapi semesta
kala mengalunkan nyanyian pagi dalam doa serta harapannya
Sungguh kasihan jiwa
yang tak bisa mencurahkan kepedihannya
ke dalam relung hari
serta sukma waktu
Hingga ia laksana daun-daun rontok yang terhempas angin
saat kehilangan pegangan untuk bertahan
Padahal dalam dirinya
tersimpan segala macam kekayaan Tuhan
yang berwujud akal budi
serta segala nasehat hidup
dari sang hidup
Yang memancarkan sinar kebijaksanaan
yang menyiratkan pengetahuan
yang menerangi semua jalan
serta memberikan kekuatan dalam hatinya
Dan
Sungguh sangat kasihan jiwa
yang menyanyikan kidung kematian
sedang napas hidupnya masih bergerak
pun jantung masih berdetak
Seakan ia melupakan keberadaan Tuhan dalam hatinya
hingga ia begitu memuja duka citanya
dan menyanyikan mantra-mantra kesedihan
dalam kidung putus asa
serta lirik bersimbah darah
Ingatlah wahai
kalian saudaraku tercinta
Penderitaan yang paling menyakitkan
adalah bila kalian kehilangan akal kesadaran
seperti kapal yang kehilangan kemudi
dan laksana rumah kosong
yang ditinggal pergi penghuninya
hingga yang ada hanya ketakutan serta kehampaan
Isilah hidup dengan tujuan
arungi musim dengan penuh kebijaksanaan
karna sesungguhnya derita dan bahagia tiada beda
semua hanyalah ciptaan fikiran
Bila fikiran kalian dipenuhi rasa syukur
maka hati akan terasa lapang
ia akan menjadi samudera yang tenang
yang akan membawa kalian ke dalam limpahan rahmat Tuhan
Kekayaan yang abadi ada pada hati yang ikhlas dan sabar
bukan pada gemerlapnya tumpukan berlian
Hati yang senantiasa dipenuhi rasa syukur dan sabar
akan mampu menyanyikan kidung kehidupan
dengan suara yang sangat merdu
karna ia memiliki lirik-lirik terindah dari perjalanan musim
yang telah menyatu dengan suka duka hatinya
Kiriman : Indra Signora
Rindu Di Batas Cahaya
Senja telah bergulung
matahari telah beranjak pulang
burung-burung pun sudah kembali menuju sarang
hanya tersisa sunyi yang mendekam
Berhembus bersama semilir angin
menampar bisu dinding-dinding karang
mencumbui hening tebing-tebing terjal
dan berdesir pilu ke dasar lembah tak bertuan
Aku di sini
bersama rinduku
Berimajinasi dalam khayal dan kata
bercerita hening pada laut di samudera
merangkai aksara cinta tanpa nada
dalam selaksa galau
yang merintih di palung jiwa
Wahai laut tak berujung
Inilah aku sang penunggu musim
yang bermimpi dalam makam kematianku
mengukir rintih rindu tak terperihkan
menyimpan duka cinta lara
di ujung batas titian cahaya
Wahai tebing-tebing terjal
Inilah aku sang perindu waktu
yang berjalan di atas reruntuhan malam
yang bernyayi sendu di ladang-ladang hitam
menyusuri sunyi runcing cadas bebatuan
dalam segala resah tak tertahankan
Kiriman : Indra Signora
matahari telah beranjak pulang
burung-burung pun sudah kembali menuju sarang
hanya tersisa sunyi yang mendekam
Berhembus bersama semilir angin
menampar bisu dinding-dinding karang
mencumbui hening tebing-tebing terjal
dan berdesir pilu ke dasar lembah tak bertuan
Aku di sini
bersama rinduku
Berimajinasi dalam khayal dan kata
bercerita hening pada laut di samudera
merangkai aksara cinta tanpa nada
dalam selaksa galau
yang merintih di palung jiwa
Wahai laut tak berujung
Inilah aku sang penunggu musim
yang bermimpi dalam makam kematianku
mengukir rintih rindu tak terperihkan
menyimpan duka cinta lara
di ujung batas titian cahaya
Wahai tebing-tebing terjal
Inilah aku sang perindu waktu
yang berjalan di atas reruntuhan malam
yang bernyayi sendu di ladang-ladang hitam
menyusuri sunyi runcing cadas bebatuan
dalam segala resah tak tertahankan
Kiriman : Indra Signora
Ke mana kutitipkan rindu?
Tlah kutuliskan rindu
Dengan tinta Biru
Saat Langit memayung kotamu
Tiba-tiba gerimis datang
Gantikan warna muram
: rinduku kelabu
Tlah kulangitkan rindu bersama hujan
Agar basah dan terhangatkan
Namun gelegar menerjang
Jatuhkan ke dalam jurang
: rinduku meradang
Tlah kulukiskan rindu di batuan karang
Agar kokoh dan tegar
Namun ombak terlalu nakal
Runtuhkan ia ke dasar yang paling dalam
: rinduku tenggelam
Lalu harus ke mana kutitipkan rindu
Saat biru langit, deras hujan dan deru ombak
Tak lagi memberi restu
Menjadikannya piatu
Sendiri dalam gigil yang mensalju.
Dengan tinta Biru
Saat Langit memayung kotamu
Tiba-tiba gerimis datang
Gantikan warna muram
: rinduku kelabu
Tlah kulangitkan rindu bersama hujan
Agar basah dan terhangatkan
Namun gelegar menerjang
Jatuhkan ke dalam jurang
: rinduku meradang
Tlah kulukiskan rindu di batuan karang
Agar kokoh dan tegar
Namun ombak terlalu nakal
Runtuhkan ia ke dasar yang paling dalam
: rinduku tenggelam
Lalu harus ke mana kutitipkan rindu
Saat biru langit, deras hujan dan deru ombak
Tak lagi memberi restu
Menjadikannya piatu
Sendiri dalam gigil yang mensalju.
Selasa, 19 Agustus 2014
Nyanyian Kala Senja
battle puisi dengan si cantik @dinjuly
di telapak kaki senja
rindu kulukis dengan gemuruh di dada
tentang peluk sapa yang manis
dalam untaian puisi kita
di bawah pendar jingga
rindu kita merona
tersentuh angin senja yang
membawa kabar bahagia
kulihat di binar matamu, sayang
wajahnya melebam jingga
rupanya rindu itu yang
menguliti rasa bahagiamu
begitulah rindu, sayang
selalu mengencaniku dengan manja
menyapa pada setiap gerak-gerik senyumku
; kau rindu yang kupunya.
rindu kulukis dengan gemuruh di dada
tentang peluk sapa yang manis
dalam untaian puisi kita
di bawah pendar jingga
rindu kita merona
tersentuh angin senja yang
membawa kabar bahagia
kulihat di binar matamu, sayang
wajahnya melebam jingga
rupanya rindu itu yang
menguliti rasa bahagiamu
begitulah rindu, sayang
selalu mengencaniku dengan manja
menyapa pada setiap gerak-gerik senyumku
; kau rindu yang kupunya.
Menjaga Hati
aku selalu
menjaga hati ini untuknya
: yang mencintaiku
yakinku kau juga begitu
tentang jenuh yang sering membelenggu
sebenarnya takkan mampu kau hentikan
walau dengan parang kebencian
biarlah hanya waktu yang akan memberikan jawaban
jika kau lelah
menunggu waktu itu
meleburlah bersama hening
sebab ia akan memberi
perubahan yang matang
jangan salah sangka
aku; dia, dan mereka
juga merasakan hal serupa
percayalah !
hanya menikmati dan memaknainya
berbeda-beda
suburkanlah kesabaran di ladang batin
jaga dan pelihara
percayakan padaku tapak-tapak hati
dan aku percayakan padamu
jejak-jejak nurani.
menjaga hati ini untuknya
: yang mencintaiku
yakinku kau juga begitu
tentang jenuh yang sering membelenggu
sebenarnya takkan mampu kau hentikan
walau dengan parang kebencian
biarlah hanya waktu yang akan memberikan jawaban
jika kau lelah
menunggu waktu itu
meleburlah bersama hening
sebab ia akan memberi
perubahan yang matang
jangan salah sangka
aku; dia, dan mereka
juga merasakan hal serupa
percayalah !
hanya menikmati dan memaknainya
berbeda-beda
suburkanlah kesabaran di ladang batin
jaga dan pelihara
percayakan padaku tapak-tapak hati
dan aku percayakan padamu
jejak-jejak nurani.
Senin, 18 Agustus 2014
Mencintai Dalam Diam
Aneh bukan? Perasaan ini selalu mengganggu. Aku sering tersenyum sendiri saat dengan sembunyi mengintip beranda FBnya. Sekadar ingin memastikan kalau keadaanya baik-baik saja.
Walau jarang menyapa meski room chat sedang berwarna hijau.
Pernah beberapa ada obrolan, berbagi cerita, canda dan tawa. Dan setelahnya, aku sendiri yang menerka-nerka perasaan aneh dalam hatiku.
Mungkin saja angin terlalu lembut menyampaikan pesan, pada harap yang kusemai di setiap sujud malam. Namun aku tak berani mengungkapkan, hanya memendamnya dalam diam.
Sebab dia pun masih biasa-biasa saja, bahkan terkesan sangat dingin.
*
Perasaan aneh itu kupendam hampir setahun lamanya. Begitu mengakar, bahkan semakin kuat dan mengembang.
Dan selama itu pula aku mulai merawat rindu.
Hingga suatu senja, kala langit merona jingga, dia datang membawa kabar gembira. Namun entah kenapa langitku berubah muram, hujan mulai mengambang.
"Wie, aku sedang jatuh cinta, sungguh aku sangat mengaguminya." ucap Pram dengan penuh syahdu.
Bagai petir yang menyambar telingaku, ucapan itu mengagetkanku.
"Selamat Pram, akhirnya kau menemukan pujaan hatimu."
Dengan segera aku memalingkan wajah, sembunyikan kecewaku agar tak nampak olehnya.
Begitu susahnya bibir ini untuk melukis senyum.
"Thanks Wie, aku bahagia walau ini masih terbentang jarak!"
"Dekatkan dengan doa, Pram. semangat untuk memperjuangakan bahagia.
Sebagai sahabat aku selalu berusaha menyemangatinya, ketika dia mulai menyerah. Aku sembunyikan segala rasaku, cemburuku. Aku tak ingin dia tahu, aku tak ingin melihatnya kecewa.
Biarlah dia merawat mawar yang tumbuh di tamannya. Sebab kutahu dia sangat menginginkan keindahan dan kebahagiaan ada menghiasi harinya.
Kau tidak usah mengganggunya Wie, biarkan dia bahagia dengan cintanya. Buang atau pendam perasaanmu terhadapnya, jangan menjadi benalu. Ingat Wie, dia hanya menganggapmu sebagai sahabat. yah, hanya sebatas sahabat, tidak lebih. lirihku membatin.
**
Hampir beberapa pekan tak ada kabar dari Pram. Mungkin dia sudah lupa, atau sedang sibuk dengan kebahagiaannya.
Baru saja mengingatnya, tiba-tiba terdengar sapaan khasnya. Tentu saja membuatku bahagia.
"Wie apa kabar?
"Alhamdulillah baik.
"Aku bingung Wie, rasanya kebahagiaan itu selalu tak bisa kuraih, terlalu jauh.
"Emangnya ada apa, Pram?
"Dia wanita yang selalu membuatku penasaran, diamnya mengundang seribu tanya. Aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan."
"Sabar Pram, perlu keberanian buat ungkapin semuanya. awas loh tumbuh jerawat kalau disimpan terus.hehehehe
Pram hanya tersenyum, dan lagi lagi senyumnya mempesonakanku. Senyum itu...yah senyum itu selalu membuat dadaku bergetar.
"Wie, bisa tolongin gak? permintaan Pram mengagetkan lamunanku.
"Kalau aku. bisa kenapa gak!"
"Please, buatin aku puisi cinta!"
Degg!!!
Serasa ada pukulan keras yang menghantam dadaku, sesak. Bagaimana bisa dia menyuruhku demikian, membuatkan puisi untuk wanita yang dia cintai.
Lama aku tak menjawab permintaan Pram. Aku bungkam, tiba-tiba ada yang jatuh dari kedua bola mataku. Aku menangis. Kenapa bisa aku menangis?
"Wie, kenapa diam, hanya kamu sahabatku yang paling ngertiin aku."
Aku masih saja diam. Sampai Pram mengulangi permintaannya.
"Baiklah sahabatku, aku akan buatin puisi untukmu!"
setiap pagi membuka cahaya
ada kerinduan yang menjelajah jiwa
kerinduan yang amat tinggi
telah menyentuh langit-langit hati
sebuah kerinduan yang ingin
membasuh bukit-bukit jiwamu
kerinduan yang begitu indah
moga wajahku dapat tenggelam di kelopak matamu
ketahuilah kasih...
wajahmu kini mengelilingi dinding-dinding pikiranku.
***
Setelah kepergiannya, hari-hariku kian sepi. Tak ada lagi canda tawanya, sapanya di setiap pagi dan senja.
Waktu semakin tak memihakku, aku mulai jenuh.
Ingin pindah ke tempat asing, di mana tak dikenali siapapun.
Keputusanku untuk pergi sudah bulat. Yah, aku harus pergi dari kota ini, terlalu banyak kenangan indah yang membuatku rapuh.
Keputusan itupun aku ambil, setidaknya agar aku bisa menghirup cuaca baru, yang lebih fresh tentunya.!
Tanpa diduga, di tempat baruku aku bertemu dengan Pram. Mungkin ini yang disebut kebetulan.
Seperti sepasang kekasih yang sudah lama gak ketemu. Kulihat binar itupun menerpa wajah teduhnya.
"Wie, maafkan aku, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu.
"Aku mencintaimu...
Pram kemudian membacakan puisi yang kutulis untuknya itu.
Langit berwarna jingga ungu, dan dua cinta kini bertemu, mengucap ikrar setia di perpulangan senja.(*)
Sabtu, 16 Agustus 2014
#ProjectAntologiBaitPuisi
kubaca surat darimu
yang
diterbangkan angin
jatuh
tepat di pangkuanku
bersama
sehelai daun kering
pohon
juga menjatuhkan ranting
seolah
telah lelah dengan beban
sedang
musim kian meranggas
kemarau
tak lekas undur diri
sudah
lelah bersama angin
katamu di musim kemarin
katamu di musim kemarin
lalu
aku seperti biasa hanya dungu
memasung
telinga dengan bisikmu
kini
pada tempat yang sama
lalu
segala ingin menerpa
segera
menuntaskan segala
sebelum
hujan segera tibaHong Kong, Agustus 2014
BERANDA PAGI
ada rindu yang mengetuk - ketuk pintu shubuh
kala fajar membuka cahaya
segala resah rebah
di rumahMu yang mewah
SUGUHAN HANGAT
di secangkir kopi
senyummu adalah gula
menambah aroma rasa
penghangat jiwa
SENJA
mata memicing tersapu kabut
tampak samar gemawan di kaki senja
seolah itu cerminan diriku
semakin ringkih terkikis masa
KEHIDUPAN
tak ada sisa dari kepergian
selain titik sabar untuk menanti
kepulangan berikutnya
bukankah hidup hanya
soal kelahiran dan kematian
Langganan:
Postingan (Atom)




