Surat Tanpa Kertas

Selasa, 09 Desember 2014

Kepada Lelaki Ilalang (Atas Nama Embun )



kembali musim mempertemukan kita dalam gigil rindu
sebab pelukmu dan pelukku tak lagi padu

aku memilih berbalik punggung
bukan karena hati telah jemu mencintai
tetapi restu yang masih belum kita kantongi
betapa jauh, enggan mendekat

Lelakiku, setegar apa karang di lautan itu?
ia tak ‘kan mampu menahan dahsyatnya badai
lalu akan terkikis dan rapuh
demikian kiranya kisah kita
yang akan usang pula ditelan masa

satu hal yang tak ingin terjadi dari perpisahan ini
tak kuinginkan senyum itu hilang dari manis bibirmu
demi perempuanmu, teruslah merajut asa
memilin benang-benang kasih
hingga menjelmalah bahagia

akupun melakukan hal serupa berjuang
mempertahankan rasa agar senantiasa bahagia

cinta tak pernah salah mempertemukan
ia datang dengan membawa hikmah
kekuatan untuk memberi dan menerima
maka sebaik-baiknya cara untuk mempertahankan
ialah dengan doa nan penuh ketulusan

Hong Kong, November 2014

Surat Tanpa Kertas



Dear,
Musim gugur di kota ini, selalu membuatku ingin agar kau segera menjemput
Seperti kali ini, masih harapan yang sama aku menunggu kehadiranmu
Namun itu semua hanya menjadi angan indahku saja

Pernah suatu kali tingkah polahku bagaikan orang gila
Saat menyaksikan Mid Autum Festival di malam purnama penuh
Serasa kau yang menggandeng tanganku, mengitari lentera raksasa
Namun sadarku datang lebih awal, aku menggandeng sebuah pena

Seketika aku ingin menuliskan segala yang aku lihat, tentang lentera itu
Juga seribu lampion yang berjejer di Victoria Park, Coswaybay
Bahwa tiada lebih benderang selain denyar rindu di hatiku

Ah dear, ternyata aku tak pandai merangkai kata-kata cinta
Meski suara-suara itu membisingkan telinga
Tapi di ujung jemariku semua diam membisu
Aku tergugu kaku, sementara rindu kian gencar memburu

Jika suratku ini sudah kau baca
Mohon jangan tertawakan tulisanku
Aku akan menjadi malu, kemudian semakin rindu

Hongkong. Februari 2014