inilah hati
yang mungkin tak sengaja melukai
menari berwarna warni
sekejap bermuram bumi
pernahkah kau lihat, dia tertawa riang
melebar senyum cemerlang
pernahkah kau saksi, hati yang terbang tinggi
karena bahagia yang ia dapati
atau pernahkah kau dengar
isak tangis yang mengurai kelamnya malam
karenamu yang mungkin tak sengaja melewatkan indah penantiannya
dialah hati yang kaujadikan tersenyum
lalu tak sengaja kata melukai
dia menangis
dia memerih pedih arti yang tak kau tanggapi
cobalah kau sadari
dialah hati yang selalu ada
bersama tulus yang ia beri
dialah hati yang mencinta
tanpa ingin menyakiti
dialah hati yang mencintai...
Surat Tanpa Kertas
Kamis, 25 September 2014
Senja Yang Kuyup
Melintas senja berjaket kuyup
Rinai hujan yang menari, bulirnya hingga ke pori
Gema adzan yang mengalun sayup
Mengajak hati 'tuk segera berhenti
Singgah ke terminal ruhani
Deras ini...
Sederas rahmatMu, Rabbi
Sederas linangku dalam ketundukan jiwa ini
Tenggelamkan aku, Ya Kariim, di telaga kasih
Agar bibir senantiasa basah akan dzikir
Hingga senja yang dingin tak lagi gigil
Sebab hati terhangati oleh sebait syair
: atas namaMu
Rinai hujan yang menari, bulirnya hingga ke pori
Gema adzan yang mengalun sayup
Mengajak hati 'tuk segera berhenti
Singgah ke terminal ruhani
Deras ini...
Sederas rahmatMu, Rabbi
Sederas linangku dalam ketundukan jiwa ini
Tenggelamkan aku, Ya Kariim, di telaga kasih
Agar bibir senantiasa basah akan dzikir
Hingga senja yang dingin tak lagi gigil
Sebab hati terhangati oleh sebait syair
: atas namaMu
Rabu, 24 September 2014
Kicauan tanpa judul dengan @sigit_pam
masihkah rindang puisimu
saat ranting-ranting tak lagi lembab
daun-daun layu deritkan isyarat
senyap menyergap
aku masih setia dengan sunyi
sesuatu yang kunamai; puisi
tempat istirah saat lelah
menyungai di tatih langkah
di pucat wajah merah itu melebam
merajam seribu padu
mendesir paksa setiap titik jumpa
; kau menolak lupa
tak ada yang bisa kuterjemahkan
dari pekat yang menyelinap di beranda
selain kesunyian
dan langit yang tak mengabarkan apaapa
ada yang dikabarkan langit
pada hening, pada kesunyian
dan langit yang tak mengabarkan apaapa
ada yang dikabarkan langit
pada hening, pada kesunyian
rindu-rindu berdesakkan
mengetuk kenangan
Selasa, 23 September 2014
Cinta Di Jalan Setapak Panjang
ada jalan setapak panjang
di pentas kehidupan
sudah dilalui bersama
mungkin ada tawa di sana
pun mungkin ada suram menerpa
pada setiap langkah yang diayun
kehangatan berdua saling menyempurnakan
bahagialah dengan curahan
Rahmat Yang Maha Kuasa
Dia beri anugerahNya
menjaga cinta dalam jiwa
NB: sajak ini kutulis dalam rangka merayakan pernikahan emasnya Abah Dimas Arika Mihardja (DAM) dan Bunda Rita Indrawati (Yessica) ☺
di pentas kehidupan
sudah dilalui bersama
mungkin ada tawa di sana
pun mungkin ada suram menerpa
pada setiap langkah yang diayun
kehangatan berdua saling menyempurnakan
bahagialah dengan curahan
Rahmat Yang Maha Kuasa
Dia beri anugerahNya
menjaga cinta dalam jiwa
NB: sajak ini kutulis dalam rangka merayakan pernikahan emasnya Abah Dimas Arika Mihardja (DAM) dan Bunda Rita Indrawati (Yessica) ☺
Semesta Senja : Ironi Harmoni
Sepasang kakinya yang telanjang menjejak pasir. Dicelupkan jemarinya ke dalam lidah ombak yang menjuntai di bibir pantai. Matahari membulat oranye. Sang raja hari tampak agung, dihiasi selendang jingga ungu yang menghampar.
Direntangkannya kedua lengan, menyambut angin yang merengkuh tubuhnya tiba-tiba. Rambutnya meliuk seiring aroma amis lautan yang mengambang di udara.
Setangkai bunga mawar yang telah kering digenggamnya, sekering hati. Sebelah batin pedih, menatap jingga yang tak lagi setia. Hasratnya melayu di penghujung senja.
Kembali melangkah, bunyi berkecipah air yang membuih, menuju sepasang camar yang sedang bercengkrama di atas karang. Seekor mendelik menatap, lalu memekik, mengejutkan pejantan. Keduanya membumbung. Menjauh.
Ia hanya tersenyum iri.
Langit lalu berubah rupa, mengganti riasnya, meluruhkan selendang jingga keunguan.
Ditinggalkannya biru. Menjelma selimut maha luas berwarna oranye. Membulat sempurna pada pusat tata surya.
Sejenak hening menyergap. Nyiurpun enggan gemulai. Ritual sakral maha suci.
Gemerisik angin kembali mengganti. Selimut senja kian membentang. Melelapkan surya dalam bantalan langit yang temaram. Sebentar pendar perak sang bulan 'kan melambai pada lambaian nyiur.
Wanita itu mengatupkan kedua mata. Sorak riang ombak memekak telinganya.
: rinduku telah tuntas
Tinggal rasa cemburu.
Pada pantai.
Pada ombak.
Pada cerianya para camar.
Pada semarak angin yang menampar pipinya.
Pada alam.
Pada ritme.
Pada semesta.
Ia cemburu
: telah lama ia kehilangan harmoni
Baginya semesta telah runtuh.
Baginya, ia bukan lagi bagiannya.
Baginya, ia hanya selongsongan hampa tanpa jiwa.
Tiba-tiba kerang menyapa kakinya. Kerang yang telah lama mati. Kulitnya yang cantik, namun kosong terabai di bibir pantai. Sementara harmoni lainnya masih bernyanyi beriringan di dalam semesta. Kulit kerang itu berkilauan seorang diri.
Dirinya kah kerang itu?
Lalu dilemparnya jauh. Hingga tawa lautan menyiringainya. Lalu ombak. Ia kembali berkabung. Dengan kesedihan yang purba.
Direntangkannya kedua lengan, menyambut angin yang merengkuh tubuhnya tiba-tiba. Rambutnya meliuk seiring aroma amis lautan yang mengambang di udara.
Setangkai bunga mawar yang telah kering digenggamnya, sekering hati. Sebelah batin pedih, menatap jingga yang tak lagi setia. Hasratnya melayu di penghujung senja.
Kembali melangkah, bunyi berkecipah air yang membuih, menuju sepasang camar yang sedang bercengkrama di atas karang. Seekor mendelik menatap, lalu memekik, mengejutkan pejantan. Keduanya membumbung. Menjauh.
Ia hanya tersenyum iri.
Langit lalu berubah rupa, mengganti riasnya, meluruhkan selendang jingga keunguan.
Ditinggalkannya biru. Menjelma selimut maha luas berwarna oranye. Membulat sempurna pada pusat tata surya.
Sejenak hening menyergap. Nyiurpun enggan gemulai. Ritual sakral maha suci.
Gemerisik angin kembali mengganti. Selimut senja kian membentang. Melelapkan surya dalam bantalan langit yang temaram. Sebentar pendar perak sang bulan 'kan melambai pada lambaian nyiur.
Wanita itu mengatupkan kedua mata. Sorak riang ombak memekak telinganya.
: rinduku telah tuntas
Tinggal rasa cemburu.
Pada pantai.
Pada ombak.
Pada cerianya para camar.
Pada semarak angin yang menampar pipinya.
Pada alam.
Pada ritme.
Pada semesta.
Ia cemburu
: telah lama ia kehilangan harmoni
Baginya semesta telah runtuh.
Baginya, ia bukan lagi bagiannya.
Baginya, ia hanya selongsongan hampa tanpa jiwa.
Tiba-tiba kerang menyapa kakinya. Kerang yang telah lama mati. Kulitnya yang cantik, namun kosong terabai di bibir pantai. Sementara harmoni lainnya masih bernyanyi beriringan di dalam semesta. Kulit kerang itu berkilauan seorang diri.
Dirinya kah kerang itu?
Lalu dilemparnya jauh. Hingga tawa lautan menyiringainya. Lalu ombak. Ia kembali berkabung. Dengan kesedihan yang purba.
Bening Yang Kurindu
pada kemilaunya yang anggun
tatapku tertegun
betapa keindahannya selalu mempesona
menumbuhkan benih benih cinta
adalah aku yang tak bisa sekejap saja
membiarkannya hilang tanpa kata
beribu sajak kutulis atasmu
; bening yang hening itu
adakah engkau tahu
sejak kemarin ruang itu sunyi
sepi tanpa suara
kata kata turut serta
sementara getar di dada
kian menggoda
akupun menunggumu
sampai terik mengganti pagi
petang dengan segudang gundah
lalu malam datang begitu angkuh
menutup indah wajah purnama
: aku masih menunggu
hingga kembali kepada pagi
sejukmu masih menjadi satu rindu
yang selalu ingin kukecup setiap waktu
tanpa jemu.
tatapku tertegun
betapa keindahannya selalu mempesona
menumbuhkan benih benih cinta
adalah aku yang tak bisa sekejap saja
membiarkannya hilang tanpa kata
beribu sajak kutulis atasmu
; bening yang hening itu
adakah engkau tahu
sejak kemarin ruang itu sunyi
sepi tanpa suara
kata kata turut serta
sementara getar di dada
kian menggoda
akupun menunggumu
sampai terik mengganti pagi
petang dengan segudang gundah
lalu malam datang begitu angkuh
menutup indah wajah purnama
: aku masih menunggu
hingga kembali kepada pagi
sejukmu masih menjadi satu rindu
yang selalu ingin kukecup setiap waktu
tanpa jemu.
Sepucuk Surat Untuk Cinta
aku menulis surat ini untukmu
seperti tak pernah bisa bersabar
dalam mengharapkanmu
tapi inilah rasa, bertahun kata tak jua reda
kembali mendera kita
lalu hilanglah jarak
ketika kelak warna kembali pada senja
sebelum kita terpaku untuk rindu
yang memilih tak berhenti menyanyi
dalam seribu puisi puisi dan doa doa
betapa dahaga jarak ini, kekasih
ketika kita masih saja begitu jauh
saling bertukar mimpi dan keluh kesah
memangkas kecemasan seperti reranting usia yang
gemetar menahan getar cuaca
namun kau terus membujukku
untuk bersabar dalam setiap pengharapan
untuk tabah dalam setiap ujian
demi kelanjutan cerita kita
"tersenyumlah, jangan terus bersedih, kekasih
kerinduan tak pernah sejalan dengan kabut ketakutan
ia bersahabat dengan kekuatan harapan."
kekuatan untuk tetap mempertahankan rasa
dalam setiap kesedihan dan kesulitan
hingga di suatu masa di akhir penantian
bahagia menjadi hadiah paling megah.
Langganan:
Postingan (Atom)