Dalam lembar-lembar maya beranda
Jemari kita saling menautkan rasa
Berbinar-binar penuh pesona
Elok serupa bunga-bunga surga
Kau, aku dan dia
Bertemu di tempat yang sama
Bercerita tentang indahnya dunia
Dalam suka duka kita dewasa
Raga tak saling rengkuh
Mata tak saling pandang
Namun dekat ini kita rasakan
Rindupun sering bertandang
Bila sapa mulai lengang
Sahabatku dalam khayalan
Engkau memberiku banyak pelajaran
Walau tak jarang ada selisih paham
Sejauh ini masih mampu kita selesaikan
Dalam misi yang sama
Kita bangun indahnya cinta
Kita kukuhkan tali ukhuwah
Di bawah naungan Sang Fataakh
Surat Tanpa Kertas
Rabu, 08 Oktober 2014
Senin, 06 Oktober 2014
Sajak tentang Hampa
hampa itu seperti orang menatap langit
melukis kekosongan di antara awan gemawan
menciptakan sajak dari desau angin
lalu ketika orang-orang berbisik
meneracau di sela desau
suaranya parau
terpekik menahan pedih
ada yang menderu dalam dirinya
benci yang lebih dari sebuah kenyataan
sementara sebagian mata
memilih bersembunyi lewat retorika surga
padahal jauh di lubuk terdalam
hatinya masam
semasam sungai yang tertimbun
kotoran sampah kehidupan
melukis kekosongan di antara awan gemawan
menciptakan sajak dari desau angin
lalu ketika orang-orang berbisik
meneracau di sela desau
suaranya parau
terpekik menahan pedih
ada yang menderu dalam dirinya
benci yang lebih dari sebuah kenyataan
sementara sebagian mata
memilih bersembunyi lewat retorika surga
padahal jauh di lubuk terdalam
hatinya masam
semasam sungai yang tertimbun
kotoran sampah kehidupan
Sajak Kaum Jelata
secangkir kopi hangat melesap
menjadi awan
menjelma hujan
sementara tuan masih menguap
di luar langit siang curam
guntur dan gelegar berbenturan
ada yang ketakutan
sembunyi di lorong jembatan
tuan masih betah dibalut selimut
di jalan malaikat-malaikat kecil berlarian
kaki-kaki telanjang mereka menerjang deras
lesatan petir tidak membuatnya minggir
tuan, ayuk bangun
bangunkan kami rumah singgah
agar merasakan hidup mewah
sejenak sebelum jasad merebah
sajak ini tentang nasib
yang disamarkan rintik
larut dalam selokan jalan
kapan tuan bisa mendengar?
Hong Kong, 06 Oktober 2014
menjadi awan
menjelma hujan
sementara tuan masih menguap
di luar langit siang curam
guntur dan gelegar berbenturan
ada yang ketakutan
sembunyi di lorong jembatan
tuan masih betah dibalut selimut
di jalan malaikat-malaikat kecil berlarian
kaki-kaki telanjang mereka menerjang deras
lesatan petir tidak membuatnya minggir
tuan, ayuk bangun
bangunkan kami rumah singgah
agar merasakan hidup mewah
sejenak sebelum jasad merebah
sajak ini tentang nasib
yang disamarkan rintik
larut dalam selokan jalan
kapan tuan bisa mendengar?
Hong Kong, 06 Oktober 2014
Rabu, 01 Oktober 2014
My Tweet
aksaraku adalah kepulangan rindu
ketukan demi ketukannya bagai nada
menggema penuhi ruang di dalam jiwa
cinta adalah air mata
aku belajar darinya
jatuh dan bangun
lalu berdiri, kemudian terbang
sepasang sayapku meraih mimpi (lagi)
di pintu dhuha
syukur kubentang seluas dada
; bahagia ini sedekat kening dan sajadah
"maka nikmatMu mana lagi yang kudusta? "
pada mata aksaramu
aku jatuh cinta
janganlah jengah
ajariku tabah
ada yang tersenyum di bawah hujan
ialah ia, seseorang yang merayakan pertemuan
bingkailah kenanganmu, Tuan
di album ingatan
kelak jika engkau rindu
bukalah, tapi usah kau risaukan
aku mencintaimu seperti embun
yang tak pernah membenci matahari
menyejukan resahmu dari mimpi sang kelam
rela jatuh saat hangat telah kau dapatkan
kepada perempuan pemilik telapak surga;
aku mencintaimu
mencintaimu
mencintaimu
memujamu sepanjang masa
kepada lelaki setia
penjembatanku menuju surga
; aku mencintaimu jua
ketukan demi ketukannya bagai nada
menggema penuhi ruang di dalam jiwa
cinta adalah air mata
aku belajar darinya
jatuh dan bangun
lalu berdiri, kemudian terbang
sepasang sayapku meraih mimpi (lagi)
di pintu dhuha
syukur kubentang seluas dada
; bahagia ini sedekat kening dan sajadah
"maka nikmatMu mana lagi yang kudusta? "
pada mata aksaramu
aku jatuh cinta
janganlah jengah
ajariku tabah
ada yang tersenyum di bawah hujan
ialah ia, seseorang yang merayakan pertemuan
bingkailah kenanganmu, Tuan
di album ingatan
kelak jika engkau rindu
bukalah, tapi usah kau risaukan
aku mencintaimu seperti embun
yang tak pernah membenci matahari
menyejukan resahmu dari mimpi sang kelam
rela jatuh saat hangat telah kau dapatkan
kepada perempuan pemilik telapak surga;
aku mencintaimu
mencintaimu
mencintaimu
memujamu sepanjang masa
kepada lelaki setia
penjembatanku menuju surga
; aku mencintaimu jua
Bait-bait Rindu
entah awal mulanya
tetiba anganku tertuju awan
pikiran mulai menerka-nerka rasa
rindukah dia
di tengah keramaian kota ini
aku sendiri menanggung sepi
kala sapa tak kutemui
dalam hirukpikuknya hari
di sudut taman Victoria
seringkali menulis rangkaian kata
di atas daun maple yang luruh
berharap angin menerbangkan sajakku
ke pangkuanmu di negeri sana
inilah rindu
dalam bait-bait balada
sebelum musim dingin tiba
tetiba anganku tertuju awan
pikiran mulai menerka-nerka rasa
rindukah dia
di tengah keramaian kota ini
aku sendiri menanggung sepi
kala sapa tak kutemui
dalam hirukpikuknya hari
di sudut taman Victoria
seringkali menulis rangkaian kata
di atas daun maple yang luruh
berharap angin menerbangkan sajakku
ke pangkuanmu di negeri sana
inilah rindu
dalam bait-bait balada
sebelum musim dingin tiba
Langganan:
Postingan (Atom)