secangkir kopi hangat melesap
menjadi awan
menjelma hujan
sementara tuan masih menguap
di luar langit siang curam
guntur dan gelegar berbenturan
ada yang ketakutan
sembunyi di lorong jembatan
tuan masih betah dibalut selimut
di jalan malaikat-malaikat kecil berlarian
kaki-kaki telanjang mereka menerjang deras
lesatan petir tidak membuatnya minggir
tuan, ayuk bangun
bangunkan kami rumah singgah
agar merasakan hidup mewah
sejenak sebelum jasad merebah
sajak ini tentang nasib
yang disamarkan rintik
larut dalam selokan jalan
kapan tuan bisa mendengar?
Hong Kong, 06 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar