Surat Tanpa Kertas

Minggu, 06 Maret 2016

PAGI YANG RESAH

aku mencarimu di antara keriuhan pagi
di balik jendela biasa kau duduk; kosong
ke mana gerangan?

resah mulai menyambangi bilik nurani
sebab pesan belum tersampaikan
ada banyak hal yang ingin kubincangkan

kembali aku mengitari beranda
tiada jua kudapati jejakmu di sana
kau tak pernah seperti ini
menanam kecemasan di pagi yang seharusnya kita bahagia

segera pulang, kekasihku
mengadu rindu
biar sepi tak menyembilu

Kornhill, 070316

Kamis, 18 Februari 2016

PUISI CINTA (Untuk Lelaki September)

Kutulis puisi ini
Lima menit setelah kita bertukar salam
Mengabarkan rindu nan biru
Menyatakan cinta yang kian mencahaya

Kekasihku, jangan patah berharap
Pun mengutuk jarak
Pulau-pulau yang kita lalui adalah sejumput harapan
Untuk sampai pada rumah cinta

Jabat erat tanganku, kekasih
Beriringan doa dan semangat baru
Tak usah lagi kau selipkan ragu
Sebab rinduku selalu berkiblat kepadamu

HK, 19 Februari 2016

MATAHARIKU

Kau datang di antara kabut dan embun
Memberi hangat pada gigil rindu
Mengusir serdadu-serdadu sepi
Yang sedari tadi mengepungku

Kau datang dengan salam kerinduan
Menjabat hati penuh haru
Menanggalkan segala keluh kesah
Hadirkan senyum nan sumringah

Engkau matahariku
Tetaplah kau menebar cinta
Pada luasnya semesta jiwa
Tetaplah menjadi nyala
Pada setiap langkah cita

HK, 18 Februari 2016

Selasa, 12 Januari 2016

BETAPA BERATNYA RINDU

menyusuri detik demi detik
tanpamu aku serasa piatu
sepanjang waktu terlalui hanya sepi
kian membiak beranak pinak

haruskah aku ikut tenggelam
ke lembah sunyi yang kau ciptakan
kemudian aku harus berlari
mengejar bayangmu yang telah jauh pergi

Kekasihku, sesekali masuklah kau ke dalam rasaku
lalu cermati adakah kejemuan di situ
bahkan saat raga terkulai lelah
namamu masih kutilawahkan dengan indah

RINDU BERSAYAP LEMBUT

ada damai yang aku rasakan
saat berteduh di langit senja
di teduh tatap nan jingga

seolah tak ada lagi ruang
untuk puisi di kepalaku
sebab dipenuhi oleh rindu bersayap lembut
bercahaya

cahaya itu terang redup silih berganti
menyejukkan mata demi mata
membuai setiap embus napas

duhai rindu di senjaku
terbang terbanglah
temui daundaun untuk bernaung
sebab sebentar lagi gelap