Surat Tanpa Kertas

Selasa, 23 September 2014

Semesta Senja : Ironi Harmoni

Sepasang kakinya yang telanjang menjejak pasir. Dicelupkan jemarinya ke dalam lidah ombak yang menjuntai di bibir pantai. Matahari membulat oranye. Sang raja hari tampak agung, dihiasi selendang jingga ungu yang menghampar.
Direntangkannya kedua lengan, menyambut angin yang merengkuh tubuhnya tiba-tiba. Rambutnya meliuk seiring aroma amis lautan yang mengambang di udara.

Setangkai bunga mawar yang telah kering digenggamnya, sekering hati. Sebelah batin pedih, menatap jingga yang tak lagi setia. Hasratnya melayu di penghujung senja.
Kembali melangkah, bunyi berkecipah air yang membuih, menuju sepasang camar yang sedang bercengkrama di atas karang. Seekor mendelik menatap, lalu memekik,  mengejutkan pejantan. Keduanya membumbung. Menjauh.

Ia hanya tersenyum iri.

Langit lalu berubah rupa,  mengganti riasnya,  meluruhkan selendang jingga keunguan.
Ditinggalkannya biru. Menjelma selimut maha luas berwarna oranye. Membulat sempurna pada pusat tata surya.
Sejenak hening menyergap. Nyiurpun enggan gemulai. Ritual sakral maha suci.

Gemerisik angin kembali mengganti. Selimut senja kian membentang. Melelapkan surya dalam bantalan langit yang temaram.  Sebentar pendar perak sang bulan 'kan melambai pada lambaian nyiur.
Wanita itu mengatupkan kedua mata. Sorak riang ombak memekak telinganya.
: rinduku telah tuntas

Tinggal rasa cemburu.
Pada pantai.
Pada  ombak.
Pada cerianya para camar.
Pada semarak angin yang menampar pipinya.
Pada alam.
Pada ritme.
Pada semesta.
Ia cemburu
: telah lama ia kehilangan harmoni

Baginya semesta telah runtuh.
Baginya, ia bukan lagi bagiannya.
Baginya, ia hanya selongsongan hampa tanpa jiwa.

Tiba-tiba kerang menyapa kakinya. Kerang yang telah lama mati. Kulitnya yang cantik, namun kosong terabai di bibir pantai. Sementara harmoni lainnya masih bernyanyi beriringan di dalam semesta. Kulit kerang itu berkilauan seorang diri.

Dirinya kah kerang itu?

Lalu dilemparnya jauh. Hingga tawa lautan menyiringainya. Lalu ombak. Ia kembali berkabung. Dengan kesedihan yang purba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar