kubaca surat darimu
yang
diterbangkan angin
jatuh
tepat di pangkuanku
bersama
sehelai daun kering
pohon
juga menjatuhkan ranting
seolah
telah lelah dengan beban
sedang
musim kian meranggas
kemarau
tak lekas undur diri
sudah
lelah bersama angin
katamu di musim kemarin
katamu di musim kemarin
lalu
aku seperti biasa hanya dungu
memasung
telinga dengan bisikmu
kini
pada tempat yang sama
lalu
segala ingin menerpa
segera
menuntaskan segala
sebelum
hujan segera tibaHong Kong, Agustus 2014
BERANDA PAGI
ada rindu yang mengetuk - ketuk pintu shubuh
kala fajar membuka cahaya
segala resah rebah
di rumahMu yang mewah
SUGUHAN HANGAT
di secangkir kopi
senyummu adalah gula
menambah aroma rasa
penghangat jiwa
SENJA
mata memicing tersapu kabut
tampak samar gemawan di kaki senja
seolah itu cerminan diriku
semakin ringkih terkikis masa
KEHIDUPAN
tak ada sisa dari kepergian
selain titik sabar untuk menanti
kepulangan berikutnya
bukankah hidup hanya
soal kelahiran dan kematian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar