Surat Tanpa Kertas

Sabtu, 16 Agustus 2014

#ProjectAntologiBaitPuisi

MENUNGGU SANG HUJAN

kubaca surat darimu
yang diterbangkan angin
jatuh tepat di pangkuanku
bersama sehelai daun kering

pohon juga menjatuhkan ranting
seolah telah lelah dengan beban
sedang musim kian meranggas
kemarau tak lekas undur diri

sudah lelah bersama angin
katamu di musim kemarin
lalu aku seperti biasa hanya dungu
memasung telinga dengan bisikmu

kini pada tempat yang sama
lalu segala ingin menerpa
segera menuntaskan segala
sebelum hujan segera tiba

Hong Kong, Agustus 2014


BERANDA PAGI

ada rindu yang mengetuk - ketuk pintu shubuh
kala fajar membuka cahaya
segala resah rebah
di rumahMu yang mewah


SUGUHAN HANGAT

di secangkir kopi
senyummu adalah gula
menambah aroma rasa
penghangat jiwa


SENJA


mata memicing tersapu kabut
tampak samar gemawan di kaki senja
seolah itu cerminan diriku
semakin ringkih terkikis masa


KEHIDUPAN

tak ada sisa dari kepergian
selain titik sabar untuk menanti
kepulangan berikutnya
bukankah hidup hanya 
soal kelahiran dan kematian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar