Surat Tanpa Kertas

Senin, 18 Agustus 2014

Mencintai Dalam Diam

Benarkah ini yang namanya cinta? Entahlah. yang kutahu setiap bertemu dengannya detak jantungku lebih kencang dari biasanya.
Aneh bukan? Perasaan ini selalu mengganggu. Aku sering tersenyum sendiri saat dengan sembunyi mengintip beranda FBnya. Sekadar ingin memastikan kalau keadaanya baik-baik saja. Walau jarang menyapa meski room chat sedang berwarna hijau. Pernah beberapa ada obrolan, berbagi cerita, canda dan tawa. Dan setelahnya, aku sendiri yang menerka-nerka perasaan aneh dalam hatiku.
Mungkin saja angin terlalu lembut menyampaikan pesan, pada harap yang kusemai di setiap sujud malam. Namun aku tak berani mengungkapkan, hanya memendamnya dalam diam. Sebab dia pun masih biasa-biasa saja, bahkan terkesan sangat dingin.
* Perasaan aneh itu kupendam hampir setahun lamanya. Begitu mengakar, bahkan semakin kuat dan mengembang. Dan selama itu pula aku mulai merawat rindu. Hingga suatu senja, kala langit merona jingga, dia datang membawa kabar gembira. Namun entah kenapa langitku berubah muram, hujan mulai mengambang.
"Wie, aku sedang jatuh cinta, sungguh aku sangat mengaguminya." ucap Pram dengan penuh syahdu. Bagai petir yang menyambar telingaku, ucapan itu mengagetkanku. "Selamat Pram, akhirnya kau menemukan pujaan hatimu." Dengan segera aku memalingkan wajah, sembunyikan kecewaku agar tak nampak olehnya. Begitu susahnya bibir ini untuk melukis senyum. "Thanks Wie, aku bahagia walau ini masih terbentang jarak!" "Dekatkan dengan doa, Pram. semangat untuk memperjuangakan bahagia.
Sebagai sahabat aku selalu berusaha menyemangatinya, ketika dia mulai menyerah. Aku sembunyikan segala rasaku, cemburuku. Aku tak ingin dia tahu, aku tak ingin melihatnya kecewa. Biarlah dia merawat mawar yang tumbuh di tamannya. Sebab kutahu dia sangat menginginkan keindahan dan kebahagiaan ada menghiasi harinya.
Kau tidak usah mengganggunya Wie, biarkan dia bahagia dengan cintanya. Buang atau pendam perasaanmu terhadapnya, jangan menjadi benalu. Ingat Wie, dia hanya menganggapmu sebagai sahabat. yah, hanya sebatas sahabat, tidak lebih. lirihku membatin.
** Hampir beberapa pekan tak ada kabar dari Pram. Mungkin dia sudah lupa, atau sedang sibuk dengan kebahagiaannya. Baru saja mengingatnya, tiba-tiba terdengar sapaan khasnya. Tentu saja membuatku bahagia.
"Wie apa kabar? "Alhamdulillah baik. "Aku bingung Wie, rasanya kebahagiaan itu selalu tak bisa kuraih, terlalu jauh. "Emangnya ada apa, Pram? "Dia wanita yang selalu membuatku penasaran, diamnya mengundang seribu tanya. Aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan." "Sabar Pram, perlu keberanian buat ungkapin semuanya. awas loh tumbuh jerawat kalau disimpan terus.hehehehe
Pram hanya tersenyum, dan lagi lagi senyumnya mempesonakanku. Senyum itu...yah senyum itu selalu membuat dadaku bergetar.
"Wie, bisa tolongin gak? permintaan Pram mengagetkan lamunanku. "Kalau aku. bisa kenapa gak!" "Please, buatin aku puisi cinta!"
Degg!!! Serasa ada pukulan keras yang menghantam dadaku, sesak. Bagaimana bisa dia menyuruhku demikian, membuatkan puisi untuk wanita yang dia cintai. Lama aku tak menjawab permintaan Pram. Aku bungkam, tiba-tiba ada yang jatuh dari kedua bola mataku. Aku menangis. Kenapa bisa aku menangis?
"Wie, kenapa diam, hanya kamu sahabatku yang paling ngertiin aku." Aku masih saja diam. Sampai Pram mengulangi permintaannya. "Baiklah sahabatku, aku akan buatin puisi untukmu!"
setiap pagi membuka cahaya ada kerinduan yang menjelajah jiwa kerinduan yang amat tinggi telah menyentuh langit-langit hati
sebuah kerinduan yang ingin membasuh bukit-bukit jiwamu kerinduan yang begitu indah moga wajahku dapat tenggelam di kelopak matamu
ketahuilah kasih... wajahmu kini mengelilingi dinding-dinding pikiranku.
*** Setelah kepergiannya, hari-hariku kian sepi. Tak ada lagi canda tawanya, sapanya di setiap pagi dan senja. Waktu semakin tak memihakku, aku mulai jenuh. Ingin pindah ke tempat asing, di mana tak dikenali siapapun.
Keputusanku untuk pergi sudah bulat. Yah, aku harus pergi dari kota ini, terlalu banyak kenangan indah yang membuatku rapuh. Keputusan itupun aku ambil, setidaknya agar aku bisa menghirup cuaca baru, yang lebih fresh tentunya.!
Tanpa diduga, di tempat baruku aku bertemu dengan Pram. Mungkin ini yang disebut kebetulan. Seperti sepasang kekasih yang sudah lama gak ketemu. Kulihat binar itupun menerpa wajah teduhnya.
"Wie, maafkan aku, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu. "Aku mencintaimu... Pram kemudian membacakan puisi yang kutulis untuknya itu.
Langit berwarna jingga ungu, dan dua cinta kini bertemu, mengucap ikrar setia di perpulangan senja.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar